DISBUDPAR Temukan Artepak “SUIKERMOLEN” Di Tepi Sungai Cisadane

Batu artepak gilingan tebu (suikermolen) yang ditemukan Bidang Budaya DISBUDPAR, bukti adanya kilang tebu di tepi Sungai Cisadane pada abad 17. Huda R Alfian Pelitabanten.com

KOTA TANGERANG, Pelitabanten.com – Bidang Budaya Dinas Budaya dan Pariwisata (DISBUDPAR) kembali menemukan sebuah batu artepak Suikermolen di pinggiran sungai Cisadane.

“Rejeki Pasca silaturahmi dan ziarah Kekasepuhan serta Kampung sejarah Kalipasir, jelang Ziarah bareng Pimpinan DPRD Kota Tangerang, bidang Budaya menemukan kembali sebuah batu kuno (ARTEPAK) di pinggir kali Mookervaart, depan LP Anak Daan Mogot,” ungkap Sumangku selaku Kepala Bidang Budaya DISBUDPAR Kota Tangerang.

Foto tampak utuh batu artepak gilingan tebu (suikermolen) abad 17-18 era BATAVIA. Foto dikutip dari Web UI. (Ist)

Sebuah batu yang berusia ratusan tahun itu, diketahui adalah sebuah batu gilingan tebu (suikermolen) yang ada sejak abad 17-18 pada jaman kolonial BATAVIA dan Cina mengolah pabrik tebu dan arak di tepian Sungai Cisadane.

Ya.. Artepak tersebut dibuktikan pada Catatan Daghregister yang dikutip dari pustaka sejarah, dengan menunjukkan bahwa tahun 1740 sudah cukup banyak orang Tionghoa di Tangerang apakah orang Cina yang sudah lama menetap atau para migran yang bekerja di perkebunan tebu dan pabrik gula.

Berdasarkan Peta Land 1739 salah satu pemilik land di sisi Mookervaart Tangerang adalah Ni Hoe Kong (seorang pemimpin Cina di Batavia).

Alkisah, Orang-orang Eropa/Belanda sangat was-was jika orang-orang Tionghoa yang sudah cukup banyak di Tangerang yang diduga melakukan pemberontakan dapat mengancam keberadaan mereka.

Sebab pada tanggal 8 Oktober 1740 dua pabrik gula di Babakan dan Tjikokol telah dirusak (lihat Dgahregister). Masih tanggal 8 Oktober dicatat di dalam Daghregister kelompok Cina bersenjata telah menduduki lahan Mr. Diogo di sisi de Qual (Moera Tangerang).

Juga dicatat surat dari Onrust yang dikirim ke Batavia setelah dilakukan pemeriksaan ke de Qual. Daghregister 8 Oktober 1740 juga mencatat adala kerumunan berhenti di pabrik gula di Paroeng Coeda..

Seiring revolusi industri di Eropa, batu gilingan (Suikermolen) tersebut kemudian lenyap di abad ke-19, dan digantikan dengan mesin-mesin uap, yang masuk di Pulau Jawa pada tahun 1800-an seperti mesin penggiling di pabrik gula.

“Masih ragam pandang apa batu jenis gilingan TEBU yang pasti langkah pertama Bidang Budaya akan mengamankan batu-batu ini untuk tindak lanjut kedepan,” pungkasnya.