Dari Dongeng Hingga Melahirkan di Pengungsian Lebak Banten

Dari Dongeng Hingga Melahirkan di Pengungsian Lebak Banten
Dongeng untuk anak-anak penyintas banjir bandang Lebak Banten, Pelitabanten.com (dok/Ist)

KABUPATEN LEBAK, Pelitabanten.com – Bencana banjir bandang yang melanda titik terparah di 3 kecamatan Lebak yakni Lebak Gedong, Cipanas, dan Sajira tentu melahirkan duka bagi masyarakat hingga anak-anak.

Ya, sekira lebih dari 60 anak setidaknya bisa menyunggingkan senyum meski ingatan mereka akan gemuruh longsor dan derasnya air sungai masih belum hilang sepenuhnya.

Dari pantauan di lokasi bencana, Sabtu (4/1) kemarin, Dompet Dhuafa sempat berkolaborasi dengan Kampung Dongeng Cilegon. Dengan menghadirkan dongeng ceria bagi anak-anak sebagai pelipur lara, agar trauma tak melekat, sehingga raut bahagia dari anak-anak penyintas bencana bisa berwujud seutas tawa ditengah duka yang menganga.

“Harapan kami, anak-anak bisa ceria setelah murung mengingat kejadian yang menimpa mereka. Besok kami akan hadirkan taman ceria dan fino badut untuk kembali menghibur mereka” ujar Sofik, relawan kemanusiaan Dompet Dhuafa Banten.

Seorang ibu yang terpaksa melahirkan di posko pengungsian, Pelitabanten.com (dok/Ist)

Selain itu, seorang ibu yang akrab disapa dengan panggilan “teteh” bahkan harus merasakan duka lebih dalam. Pasalnya ia harus melahirkan buah hati tercinta di tempat pengungsian.

Beruntung ada tenaga medis yang membantu proses kelahiran sehingga keduanya bisa diselamatkan dalam kondisi sehat dan kuat. Sayangnya ASI sang ibu tak keluar sehingga terpaksa bayi merah itu tak bisa menyedot ASI dari ibunya dan harus mencari alternatif lain.

Bahagia ditengah duka atas lahirnya buah hati tercinta menjadi cerita yang tak mungkin terlupa. Satu lagi yang membuat kita mengelus dada, pesantren harus kembali belajar pada senin, 6 januari 2020, namun karena ada banyak penyintas maka santri baru bisa masuk tanggal 12, mundur 1 pekan dari jadwal atas nama kemanusiaan, sungguh pak Kyai amat mulia demi sesama, sekolah berjenjang MTs dan Madrasah Aliyah itu harus menunda jadwal belajarnya.

Sampai dini hari ini, Sabtu (4/1), belum ada kepastian kemana pengungsi akan dialihkan. Ada kemungkinan pengungsi bertambah sekitar 200 orang dari Lebak Gedong.

“Kami harus berfikir kemana memindahkan mereka, hunian sementara menjadi solusinya, tanah pesantren sudah disiapkan pak Kyai sebagai lahan untuk huntara, darimana dananya itu pekerjaan rumah selanjutnya,” fikir para relawan ini.

Sebanyak 130 Kepala Keluarga yang diisi lebih dari 600 jiwa terpaksa mengungsi akibat rumah mereka yang hancur tertimbun longsor, dan tersapu banjir bandang, Minggu (05/01/2020).

Sehingga 1.800 porsi makanan harus disediakan setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban, serta 1 mobil tangki, 1 mobil dapur keliling, 1 mobil toilet siaga untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak.

Karena alasan tersebut, Dompet Dhuafa membuka posko di Pondok Pesantren Darul Mustafa, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, untuk melayani para pengungsi dengan sepenuh daya upaya.

Mulai dari dapur umum yang menyediakan kebutuhan makan, pos hangat untuk melayani dinginnya malam dan pagi jelang hari berganti, layanan medis, evakuasi hingga pendampingan psikologi terpadu dalam satu ihtiar bahwa penyintas tak sendirian dalam kebencanaan.

“Kami hanya punya waktu sampai rabu, 9 januari 2020 untuk menyiapkan hunian sementara, semoga bisa direalisasikan, karena untuk kembali ke rumah mereka, itu sangat berbahaya dan rumahnyapun sudah hancur di timbun longsor,” pungkas Mokhlas Pidono, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten.