Usia Produktif Tanpa Produktivitas?

Usia Produktif Tanpa Produktivitas
Ilustrasi. Foto: Gerd Altmann dari Pixabay

Pelitabanten.com – Menurut data yang dikeluarkan oleh The Spectator Index pada akhir tahun lalu, Indonesia menepati posisi ke-4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Dengan jumlah populasi penduduk sebanyak kurang lebih 264 juta jiwa, yang dimana berarti penduduk Indonesia adalah 3,53% dari jumlah keseluruhan penduduk dunia, hanya berbeda 15% dengan Tiongkok yang berada di posisi pertama negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.

Untungnya dengan jumlah penduduk yang banyak ini Indonesia mampu mengimbanginya dengan demografi yang baik. Indonesia bahkan memiliki bonus demografi yang tentu merupakan hal yang didambakan oleh banyak negara, terutama negara-negara berkembang. Tetapi apa bonus demografi di Indonesia sejauh ini memberikan banyak keuntungan atau malah cenderung memberikan dampak buruk kepada perkembangan negara?

Dengan total penduduk kurang lebih 264 juta jiwa, hampir 133,56 juta orang dari penduduk Indonesia adalah penduduk yang berusia produktif, angka yang menjadi impian bagi banyak negara berkembang di dunia. Usia yang dapat digolongkan dalam usia produktif sendiri menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia adalah penduduk berusia 15 tahun sampai 64 tahun. Penduduk di usia ini dianggap sudah mampu bekerja dengan maksimal dan menghasilkan barang maupun jasa. Maka dari itu, usia ini seharusnya dapat terus mengembangkan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun orang lain dan hal ini tentu sangat membantu usaha negara untuk menjadi negara yang lebih baik atau bahkan menjadi negara maju.

Sayangnya, meskipun jumlah usia kerja atau Angkatan kerja di Indonesia adalah 133,56 juta orang, ternyata jumlah pengangguran di Indonesia sendiri menyentuh angka 7,05 juta orang. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia angka ini merupakan angka yang disayangkan, karena jumlah usia siap kerja yang banyak tidak dapat membantu negara semakin maju jika tidak bekerja atau produktif.

Sifat tidak produktif ini justru menjadi malapetaka bagi Indonesia. Usia yang seharusnya sudah bisa menafkahi diri sendiri dan bahkan orang lain ini justru terancam dengan kemiskinan karena tidak dapat menafkahi dirinya sendiri ditambah lagi sifat konsumtif yang mungkin muncul yang dapat memperburuk kemiskinan. Jika kemiskinan terjadi dan meningkat, tentu nilai Gross Domestic Bruto (GDP) negara kita dapat menurun.

Banyak faktor yang menyebabkan tingginya jumlah pengangguran yang berasal dari kalangan usia siap kerja, salah satunya adalah minimnya skill. Skill disini dapat berupa Soft Skill maupun Hard Skill, Soft Skill disini bisa berbentuk pengalaman berorganisasi, membangun relasi, dan banyak lainnnya.

Padahal tidak bisa dipungkiri bahwa dalam dunia kerja pengalaman merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dan relasi juga dapat membuat peluang semakin besar karena itu berarti perusahan tersebut sudah mengetahui sedikit kinerja yang kita miliki. Sedang Hard Skill di sini adalah seperti mahasiswa IT dengan kemampuannya membuat blog, tautan, atau hal-hal lainnya yang berhubungan, justru tidak dapat membuat hal-hal tersebut.

Selain itu, banyak juga usia kerja yang cenderung terlalu idealis. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita semua pasti menginginkan pekerjaan dengan posisi tinggi dan pendapatan yang tinggi pula, tetapi banyak yang kurang sadar bahwa hal tersebut tidak dapat dicapai dengan tanpa usaha dan pengalaman yang banyak. Orang-orang yang berada diposisi tersebut sebelumna sudah melakukan banyak sekali pekerjaan lain sambal menata karir dari terendah hingga dapat mencapai posisinya sekarang ini. Dalam menata karir bisa saja dimulai dari freelance, magang, dan juga pegawai biasa yang tentu bisa menjadi wadah kita untuk mendapat skill yang kita perlukan.

Berhubungan dengan faktor sebelumnya mengapa angka pengangguran dari usia produktif cenderung banyak adalah karena masih adanya konstruksi bahwa pekerjaan yang ideal dan memiliki penghargaan yang tinggi adalah sebagai Pegawai Negri Sipil. Konstruksi ini didapat usia produktif dari keluarga yang berasal dari generasi terdahulu yang masih menganggungkan pekerjaan sebagi pegawai negeri sipil (PNS) karena dinilai bahwa hidupnya pasti akan sejahtera jika menjadi PNS.

Padahal faktanya pada dewasa ini, seleksi yang harus dilakukan untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil cukup panjang dan banyak lapangan kerja lain yang tidak kalah menguntungkan serta menjamin kehidupan yang baik. Usia kerja dan orang-orang disekitarnya perlu membuka diri dengan fakta yang ada serta mengikuti perkembangan teknologi yang ada agar tidak kalah saing maupun tersingkir dalam dunia kerja.

Rendahnya produktifitas salah satunya juga diakibatkan oleh pemerintah yang kurang visioner dan akomodatif. Visi yang rendah tentu tidak dapat memanfaatkan usai produktif yang ada. Usia produktif juga kurang mendapatkan arahan atau tidak memiliki wadah untuk produktif. Hal ini menyebabkan tenaga yang tersedia justru dianggurkan dan tidak meningkatakan pendapatan negara. Kurangnya akomodasi seperti lapangan kerja tentu merupakan kendala utama dalam kurangnya produktivitas pada usia siap kerja.

Meskipun sudah ada usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk menangani masalah ini, seperti memperluas cakupan pegawai negeri sipil dan membuka beberapa lapangan kerja baru. Tetapi dengan segala usaha yang sudah dilakukan, pemerintah dirasa masih kurang adaptif dan menjamah kondisi sebenarnya yang sedang terjadi di Indonesia. Seperti lapangan kerja yang dibuka masih bersifat normatif dan kurang beragam maupun spesifik, sedang kemampuan yang dimiliki oleh usia kerja Indoensia kebanyakan adalah spesifik.

Jika pemerintah sudah lebih adaptif dan menelaah dengan baik kondisi lapangan sebeneranya bagaimana, makan peran pemerintah akan lebih jelas dan visioner sehingga lapangan kerja akan jauh lebih beragam dan membutuhkan berbagai macam skill, sehingga tidak ada usia kerja yang skill-nya disia-siakan.

Selain itu segala hal yang dapat meningkatkan produktivitas dapat disiapkan sebelum memasuki usia produktif itu sendiri, yaitu melalui pendidikan dan sosialisasi di bangku sekolah. Sehingga usia produktif dapat mengasah kemampuan yang dimiliki sejak dini.

Penulis: Huuriyah La’Thiffah Ervindra (Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Brawijaya)