Serangan Fajar Dimata Caleg Ini

A. Jazuli Abdilah
A. Jazuli Abdilah Dikenal Dekat Dengan Emak emak Pengajian. Foto Pelitabanten.com (Dok.Ist)

KOTA TANGERANG, Pelitabanten.com, — Serangan fajar dengan membagi-bagikan uang dan atau bentuk lainnya pada hari tenang jelang pencoblosan untuk mempengaruhi suara pemilih adalah praktek yang biasa terjadi di hampir tiap momentum Pemilu, termasuk Pemilu Pilpres dan Pileg di 2019 ini.

A. Jazuli Abdilah
A. Jazuli Abdilah Kerap Diminta Menjadi Narasumber Dari Berbagai Kegiatan masyarakat dan akademisi. Foto Pelitabanten.com (Dok.Ist)

Hampir semua calon dan tim sukses “menghalalkan” segala cara termasuk serangan fajar (Istilah Bagi bagi Uang-red), bahkan masyarakat sudah menganggap ini hal biasa dan wajar. Terlebih bagi calon yang sedang menjabat (petahana) tentu akan berusaha mempertahankan jabatannya, bagaimanapun caranya untuk terpilih kembali. Pembagian amplop secara masif maupun berbentuk barang dan sembako (Sembilan bahan pokok) terus dilakukan.

Tapi tidak bagi calon legislatif (Caleg) satu ini, A. Jazuli Abdillah, caleg DPRD Provinsi Banten nomor urut 1 dari Partai Demokrat Dapil Kota Tangerang B. Karna baginya, ‘serangan fajar’ itu bentuk ‘money politik’ yang merusak ahlak warga dalam memilih, meracuni pikiran, mengganggu kesucian hati, dan membelokkan niat baik untuk menghasilkan wakil rakyat yang baik, jujur, amanah dan tidak korupsi berubah ke arah sebaliknya; tidak jujur, tidak amanah, dan koruptif.

A. Jazuli Abdilah
Penghargaan sebagai tokoh yang memiliki kiprah dan dedikasi terhadap kemajuan pendidikan di Provinsi Banten. Foto Pelitabanten.com (Dok.Ist)

Menurut Jazuli, yang saat ini merupakan Staf Ahli Gubernur Banten Wahidin Halim (WH), Pemilu memang adalah jalan resmi untuk menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat, tapi hasil dari Pemilu tidak otomatis baik dan sesuai harapan, atau tidak menjamin menghasilkan wakil rakyat yang jujur, amanah dan tidak korupsi. Bahkan maling saja bisa menang dan terpilih, orang baik tidak dijamin menang, ustadz atau kyai yang jamaahnya banyak saja banyak yang kalah dan tumbang. Sangat sedikit orang baik yang mampu lolos dari lubang jarum kompetisi politik yang penuh intrik ini.

Baginya, Pemilu itu bukan untuk memilih orang yang baik dan berkualitas, bukan memilih yang benar. Orang yang tidak baik dan tidak berkualitas bisa terpilih dalam Pemilu. Kecuali pada beberapa warga yang terdidik dan menggunakan akal sehat, masih ada harapan untuk memilih karena faktor kualitas kompetensi calonnya, visi misinya, track record-nya, kejujurannya dan lain sebagainya.

A. Jazuli Abdilah

    A. Jajuli Abdilah Saat menjadi narasumber. Foto pelitabaten.com (Dok.Ist)

Kenapa Tak Berpolitik Praktis ?

Ditanya Pelitabanten.com soal kenapa tak gunakan saja uang untuk mendulang suara, dirinya menjawab, Miris, jika mayoritas masyarakat masih memilih karena faktor uang, sembako, dan materi lainnya baik politik uang (money politik) serangan fajar jelang berberapa jam sebelum pencoblosan.

“Sejak awal melangkah sudah bertekad tidak akan menggunakan cara-cara kotor seperti money politik, saya tidak mau mengotori niat dan tujuan baik untuk menolong masyarakat melalui lembaga legislatif. Saya tidak rela pikiran masyarakat dirusak dan diracuni oleh uang dalam memilih. Makanya saat sosialisasi dan kampanye yang saya tawarkan adalah konsep, visi misi dan program. Insya Allah bila disampaikan dengan baik, masyarakat faham dan yakin, inipun menjadi pendidikan politik, rakyat jangan dibodohi dengan iming-iming uang dan materi serta janji-janji, jangan terjebak oleh kecantikan dan ketampanan wajah fisik caleg, tapi lihat isi hati dan isi kepalanya. Saya menilai masyarakat masih ada yang punya akal sehat yang bisa membedakan mana yang baik dan tidak, mana yang kotor dan bersih, walaupun dalam pemilu ini orang yang kotor bisa saja terpilih, karena mampu mengelabui masyarakat dengan uangnya,” Kata Jazuli dalam obrolan khas anak Tangerang.