Beranda Peristiwa Nasional Gus Asyik: Mari Gunakan Politik Santun Bermartabat

Gus Asyik: Mari Gunakan Politik Santun Bermartabat

31
Gus Asyik: Mari Gunakan Politik Santun Bermartabat

TANGERANG PelitaBanten.com – Menjelang Pemilu tahun 2019 ini masyarakat harus mewaspadai penyebaran hoax dan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Bahaya hoax dan isu SARA dalam rangka Pemilu melebihi bahaya politik uang. Tahapan Pemilu legislatif dan presiden tahun 2019 tak lama lagi memasuki tahap kampanye pertemuan-pertemuan dan penyebaran bahan kampanye. Ketua Gus Durian Tangerang Raya, Gus Asyik mengingatkan hal itu, Minggu 16 September 2018.

Dijelaskan Gus Asyik, dalam tahapan ini isu-isu terkait pasangan calon (Paslon) dan calon legislatif (Caleg) akan bermunculan, baik yang bersifat positif maupun negatif. Bagi pendukung Paslon, kata Gus Asyik biasanya akan memunculkan isu-isu positif dari Paslon yang didukungnya yang biasanya berupa keunggulan dan keistimewaan Paslon yang didukungnya. Sebaliknya mereka akan memunculkan isu-isu negatif yang berupa kelemahan-kelemahan dari Paslon yang lain yang tidak didukungnya.

“Dalam rangka memenangkan Pemilu, para tim sukses pendukung Paslon ataupun Caleg tertentu biasanya akan menerapkan berbagai strategi seperti membuat pencitraan terhadap Paslon serta Caleg yang didukungnya seola-olah ia adalah seorang juru selamat yang akan mampu membawa daerah ke suatu kondisi yang dicita-citakan selama ini, seperti mewujudkan pendapatan yang tinggi bagi pekerja, buruh, petani dan PNS, pendidikan gratis, pelayanan kesehatan gratis, penciptaan lapangan kerja bagi penganggur dan banyak lagi lainnya. Kerap kali hal itu juga menjadi janji-janji politik para Paslon serta Caleg pada saat kampanye,” jelas Gus Asyik yang juga Ketua GP Ansor Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Dikatakannya, di pihak lain ada pula dengan menebarkan isu-isu negatif terhadap lawan politiknya atau Paslon lain sehingga calon konstituen tidak memilih pasangan calon lain yang menjadi lawan Paslon atau Caleg yang didukungnya. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara seperti memunculkan aib pribadi dan atau keluarga yang bersangkutan, tahu dengan memberitakan hal-hal yang bersifat fitnah (bohong) atau yang sering disebut sebagai berita hoax. Selain itu terkadang dengan menebarkan isu-isu yang berbau SARA seperti asal usul keluarga dari etnis tertentu, bahkan isu pribumi dan non pribumi bisa muncul pada saat kampanye sebagai strategi untuk mengalahkan lawan politik.

“Hal ini sering disebut sebagai kampanye hitam atau black campaign. Kampanye hitam adalah berkampanye dengan cara buruk atau jahat. Buruk atau jahat dalam pengertian merugikan orang lain atau lawan politik. Si pelaku kampanye hitam itu berharap dirinya atau paslon yang didukungnya mendapatkan keuntungan. Ibarat peribahasa mengeruhkan air, berharap ikan muncul. Black campaign biasanya menjadi senjata pemusnah para tim sukses menjelang masa akhir kampanye,” ungkap Gus Asyik.

Ditambahkan Gus Asyik lebih lanjut, tidak kalah pentingnya sebagai senjata pemusnah adalah menyebarkan berita hoax. Hoax adalah berita palsu atau bohong yang sengaja dibuat dan disebarluaskan untuk menimbulkan ketakutan atau kehebohan. Terdapat pula hoax yang dibuat untuk menipu publik. Hoax-hoax ini banyak disebar lewat SMS, WhatsApp, Instagram, facebook, Twitter, Path, serta blog–blog, dll. Penyebaran berita bohong atau hoax sangat membahayakan dan merugikan masyarakat.

“Hoax berbeda dengan kritik. Kalau kritik biasanya mengungkapkan fakta tentang kekurangan seseorang atau ketidaksesuaian harapan terhadap perilaku seorang. Kritik bisa bersifat konstruktif atau  untuk memperbaiki kekurangan atau kekeliruan. Sedangkan hoax merupakan manipulasi, kecurangan, yang dapat dan bahkan dimaksudkan untuk menjatuhkan orang lain,” ujar Gus Asyik.

Sejatinya, terang dia, hoax merupakan tindakan kriminal, yakni salah satu bentuk cyber crime.  Oleh karena itu berhati-hatilah dalam menyebarkan pesan berantai lewat pesan pendek (SMS), maupun e-mail dan lain-lain.

“Saya mengajak, marilah gunakan politik santun dan bermartabat. Kita hindari diri dari perbuatan tercela yang berupa penyebaran berita hoax dan isu SARA. Menyebarkan hoax dan isu SARA tidak sesuai dengan tata krama kita berbangsa dan bernegara karena dapat membahayakan semangat persatuan dan kesatuan dan melanggar sasanti Bhinneka Tunggal Ika,” pungkas Gus Asyik.***

• Ateng Sanusih