Beranda Peristiwa Di Selat Sunda Provinsi Lampung, Anak Gunung Krakatau Erupsi Capai 1000 Meter

Di Selat Sunda Provinsi Lampung, Anak Gunung Krakatau Erupsi Capai 1000 Meter

593
Di Selat Sunda Provinsi Lampung, Anak Gunung Krakatau Erupsi Capai 1000 Meter

LAMPUNG, Pelitabanten.com – Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda Provinsi Lampung untuk sekian kali erupsi. PVMBG melaporkan Gunung Anak Krakatau erupsi dengan tinggi kolom abu 1.000 meter di atas puncak kawah atau pada ketinggian 1.305 meter di atas permukaan laut pada Senin (25/6/2018) pukul 07.14 WIB.

“Erupsi melontarkan abu vulkanik dan pasir. Erupsi tidak membahayakan penerbangan pesawat terbang. VONA (Volcano Observatory Notice For Aviation) orange,” ujar Sutopo dalam rilis yang diterima redaksi pelitabanten.com pada Senin (25/6/2018)

lebih lanjut, ia mengatakan erupsi tidak berbahaya selama berada di luar radius 1 km dari puncak kawah. Selain itu erupsi tidak membahayakan pelayaran di Selat Sunda. “Status Gunung Anak Krakatau tetap Waspada (Level 2),” ucapnya.

Sutopo mengungkapkan, status Waspada sudah ditetapkan sejak 26 Januari 2012. Itu artinya, sejak 2012 tidak ada perubahan status Gunung Anak Krakatau. Status Waspada, sambung Sutopo, artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga erupsi dapat terjadi kapan saja. “Erupsi Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa. Gunung ini masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi,” tuturnya.

Baca juga :  Green Cleosa, Apartemen Nyaman Fasilitas Lengkap dan Mewah

Gunung Anak Krakatau baru muncul dari permukaan laut tahun 1927. Rata-rata tambah tinggi 4-6 meter per tahun. Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883. “Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” bebernya.

Aktivitas Vulkanik Meningkat Sutopo mengaku, sejak 18 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau memang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Ada pergerakan magma ke luar permukaan sehingga terjadi erupsi. Menurut PVMBG pada 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Pada 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa low frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm).

Pada 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal.

Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam. “Secara visual terlihat erupsi mengeluarkan abu dan pasir. Tipe letusannya strombolian yang terjadi erupsi secara berkala pada saat itu,” ungkapnya.

Baca juga :  Cegah Anies Dampingi Presiden, Begini Jawaban Deputi Bidang Protokol