Beranda Peristiwa Nasional Dawam Rahardjo Wafat, Jimly Asshidiqie; Indonesia Kehilangan Tokoh Intelektual

Dawam Rahardjo Wafat, Jimly Asshidiqie; Indonesia Kehilangan Tokoh Intelektual

543
Dawam Rahardjo Wafat, Jimly Asshidiqie; Indonesia Kehilangan Tokoh Intelektual
Jimly Asshidiqie, (kanan). bersama Gatot Nurmantyo, mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (kiri). ist

JAKARTA, Pelitabanten.com – Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshidiqie mengatakan Indonesia kehilangan salah satu tokoh intelektual handal seiring wafatnya cendikiawan muslim Dawam Rahardjo, Rabu (30/5/2018) malam.

“Kita kehilangan satu lagi tokoh panutan di dunia intelektual dan aktivis yang handal untuk kemajuan bangsa,” kata Jimly dalam pesan singkat di Jakarta, Kamis dini hari (31/5/2018).

Jimly mengatakan Dawam merupakan sosok intelektual, aktivis serta pemikir sosial dan ekonomi politik yang selalu “up to date” atau mengikuti perkembangan terbaru. Mantan Ketua MK itu mengajak seluruh pihak mendoakan kepergian Dawam.

Sementara itu mantan Menko Kemaritiman serta Menko Ekuin Rizal Ramli memandang sosok Dawam sebagai seorang ekonom kerakyatan.

“Ia cendikiawan muslim, tokoh pluralis dan seorang muslim yang berani. Dia tidak gentar saat sebagian umat Islam di Indonesia mencela karena pembelaannya terhadap kaum minoritas di Indonesia,” ujar Rizal dihubungi di Jakarta, Kamis dini hari.

Rizal mengatakan pembelaan Dawam terhadap kaum minoritas dan marjinal selalu berada dalam koridor kepantasan dan rasional.

Dawam Rahardjo wafat Rabu (30/5) di RS Islam Jakarta pada usia ke-76 tahun. Pria kelahiran Solo, 20 April 1942 itu ikut memberikan sumbangsih dalam ide pendirian organisasi ICMI, hingga menjadi anggota Dewan Kehormatan ICMI periode 2015-2020.

Semasa hidupnya Dawam banyak menulis buku antara lain berjudul Esai-esai ekonomi politik (1983), Deklarasi Mekah: Esai-esai ekonomi Islam (1987), Etika bisnis dan manajemen (1990), Habibienomics: Telaah pembangunan ekonomi (1995), Paradigma Alquran: Metodologi dan kritik sosial (2005), serta Nalar Politik Ekonomi Indonesia.