Beranda Budaya Sastra TERIMAKASIH IBU

TERIMAKASIH IBU

72
TERIMAKASIH IBU
ilustrasi (foto:ist)

Ada seorang wanita berparas cantik  mengenakan hijab dengan ikhlas tak pernah lelah menumpahkan kasih sayangnya. Kasih sayangnya tidak terhitung bagaikan bintang di langit. Kesabarannyapun tak terbatas bagaikan luasnya angkasa di alam semesta ini.

Siapakah  wanita  tersebut? Ya,dia adalah Ibu. Aku  biasa  memanggilnya dengan  sebutan  “Ibu”. Wanita ini pernah berjuang mengorbankan jiwa dan raganya hanya agar aku dapat melihat indahnya dunia ini . Lewat rahim Ibu aku bisa hidup di dunia ini. Aku dapat melihat begitu terangnya sinar matahari sekaligus juga gelap gulitanya di malam hari.

Di saat aku baru bisa berjalan selangkah demi selangkah. Ibu yang membimbing diriku sampai aku bisa berjalan sampai ribuan langkah. Karena hanya dengan segenap kesabarannyalah yang dapat membangunkan semangat tumbuh kembangku.

Di awali saat di mana aku buta terhadap rangkaian huruf dan kata. Ibu adalah orang yang paling  setia  mengeja setiap  alfabet berkali-kali  hanya agar aku dapat menghafalnya dan dapat berbicara lancar.

Ibu adalah orang yang pertama kali mengantarkanku ke gerbang sekolah untuk mengenyam dunia pendidikan. Dengan lincah Ibu menempatkanku duduk di barisan paling depan dengan harapan aku dapat menjadi murid yang berprestasi di sekolah.

Baca juga :  4 Orang Terduga Pelaku Curanmor Dibekuk Petugas Polsek Cikupa

Ibu yang selalu membangunkanku di pagi buta hanya agar aku bisa berangkat ke sekolah tepat waktu. Aku selalu berangkat ke sekolah dengan mengenakan seragam yang rapi dan juga wangi. Itu semua berkat tangan Ibu yang rela pegal setiap malam untuk menyetrika seragam sekolahku,sehingga aku dapat terlihat menawan  di sekolah setiap harinya. Ibu juga rela bangun pagi buta hanya untuk menyiapkan bekal makanku. Karena rasa khawatirnya jika nanti aku kelaparan saat di sekolah.

Apakah hanya sampai disitu rasa kasih sayang Ibu terhadapku? Tentu tidak.

Ternyata  Ibu tak pernah sedikitpun melupakanku. Bahkan waktu malam hari disaat aku sudah tertidur pulas, Ibu masih sempat bangun hanya untuk menepoki nyamuk yang menghisapi  tubuhku.

Ibu pernah berkata, “Bukan segunung berlian  yang aku inginkan di dalam kesuksesanmu,bukan juga tumpukan uang yang aku minta dari penghasilanmu nanti. Terserah padamu mau jadi apa kamu ini nantinya,tetapi  hanya satu permintaanku, Jangan pernah kau tinggalkan sholatmu,”

Aku ingin setiap harinya mengatakan terima kasih kepada Ibu atas segala pengorbanan yang tak terhitung sudah berapa tetes keringat Ibuyang berjatuhan. Terima kasih atas segala waktu Ibu yang rela membangunkanku di pagi hari dan juga rela  bangun  lagi  di malam hari hanya untuk menjagaku saat tertidur,sehingga nyamuk-nyamuk nakal itu tidak jadi menghisap darahku.

Baca juga :  Kampung Literasi Kedai Proses Rangkasbitung Buka Kelas Menulis Skenario Sinetron

Doa yang selalu aku ucapkan disetiap sholatku untuk Ibu, semoga kami bisa sehat selalu dan Allah dapat mengampuni segala dosa-dosa kami, agar kami dapat dipertemukan lagi di surgaNya nanti.

 

Penulis: Ziadatuz Zamzam Ulya, Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta dari Jurusan Jurnalistik