Beranda Pendidikan Kampus Mahasiswa Arsitektur UPH Buat Project Kritik Kepekaan Nurani Pengguna Jalan

Mahasiswa Arsitektur UPH Buat Project Kritik Kepekaan Nurani Pengguna Jalan

562
Mahasiswa Arsitektur UPH Buat Project Kritik Kepekaan Nurani Pengguna Jalan

KABUPATEN TANGERANG, Pelitabanten.com – Apa yang anda pikirkan ketika akan menyebrang di lintasan zebra cross? Tentu jawabannya seharusnya aman dan nyaman. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak usah jauh-jauh, pada zebra cross yang ada di depan kampus UPH Lippo Village beberapa kali nyaris terjadi kendaraan yang hampir nyerempet penyebrang jalan. Padahal jelas ada lampu merah dan hijau yang mengatur giliran pengguna jalan.

Menyikapi kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Arsitektur UPH semester 2, membuat projek yang mereka namakan ‘Instalasi Bentang Bayangan’. Project ini dilakukan pada 18 April 2018, sebagai bagian dari tugas matakuliah Studio Dasar Desain 2.

“Instalasi ini cukup sederhana, berupa bentangan kain putih 1.5m x 20m sepanjang ruas jalan. Kain putih dalam pengertian seni yang sudah kami pelajari adalah sebuah wujud dari imajinasi. Kain yang menghalangi adalah wujud nyata imajinasi dari hati nurani,” jelas JoshMike, mahasiswa Arsitektur UPH 2017 yang juga ketua kelompok ini.

Instalasi tersebut mereka pilih berdasarkan pertimbangan dan diskusi tentang mewujudnyatakan hati nurani. Konsep ini memunculkan ruangan yang membentang panjang di antara zebracross, sebagai imajinasi dari bentuk 3 dimensi dari zebracross.

“Lewat instalasi tersebut saya dan teman-teman membuat kritik terhadap kurangnya kepekaan orang Indonesia dalam menekan ego mereka di jalan raya. Padahal seharusnya mereka menuruti hati nurani mereka yang pastinya mengingatkan mereka saat akan melanggar lalu lintas. Jadi tujuan aksi kami adalah untuk kembali menyadarkan para pengendara bermotor untuk lebih peka pada lampu lalin (lalu lintas) dan mereka lebih patuh pada hitungan mundur waktu lampu lalin seperti layaknya ‘hati nurani’, “ tambah Yosua.

Tampaknya atraksi yang dilakukan oleh 16 mahasiswa ini cukup efektif. Atraksi ini dilakukan sebanyak 10 kali setiap 3 menit selama 1 jam. Setelah melewati beberapa kali atraksi baru kelihatan hasilnya. Kelihatan dari para pengendara yang dengan sigap dan tertib berhenti saat instalasi “hatinurani” dibentangkan. Sementara para penyebrang jalan juga mulai tertib dengan berjalan di atas zebra cross dan tidak sembarangan menyebrang. Bukan hanya itu, dari beberapa komentar penyebrang yang melintasi zebra cross dalam bentangan bayangan, mereka mengaku merasa memiliki privasi dan keamanan yang terjamin.

Kreatifitas dalam menyampaikan suatu pesan melalui sebuah media baik itu gambar, model, maket atau prototype, merupakan bagian dari ilmu yang dipelajari mahasiswa dalam mata kuliah Studio Dasar Desain 2. Hasil yang dituntut dalam Studio 2 ini adalah pengertian dasar akan logika operasi geometri dan kemampuan teknik ketukangan dari suatu material yang tidak dipergunakan sebagai bahan bangunan.

Capaian pembelajaran mata kuliah ini adalah mahasiswa mampu mengaplikasikan kreatif seni rupa dan relevansinya serta dampaknya pada arsitektur. Selain itu mahasiswa mampu mengaplikasikan kreatif dari proses desain pada proyek studio desain dalam upaya melakukan konseptualisasi dan representasi.

“Project ini tidak hanya membuat kami paham teori dan konsep tetapi juga mendorong kami untuk kreatif dan peka terhadap isu-isu disekitar kita yang dapat disentuh oleh ilmu Arsitektur. Kesan kami dan kelompok sangat senang jika semua orang bisa sama-sama sadar dan saling menaati peraturan di jalan raya, apalagi dengan cara yang cukup menarik,” ungkap JoshMike.***

• Ateng Sanusih | Ida Rosidah