Beranda Peristiwa Kota Serang RSUD Banten Klarifikasi Kabar Pasien Aning Diterlantarkan

RSUD Banten Klarifikasi Kabar Pasien Aning Diterlantarkan

587
RSUD Banten Klarifikasi Kabar Pasien Aning Diterlantarkan
Dr Hj. Susi Badrayanti, Mpd, Plt Direktur RSUD Banten

SERANG, Pelitabanten.com – Peristiwa  terlantarnya pasien atas nama Aning (49) warga Kampung Pabatan, Kabupaten Serang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten pada Minggu, 31 Desember 2017 lalu, dibantah langsung oleh pihak RSUD Banten  Dr Hj. Susi Badrayanti, Mpd . ia mengatakan, kedatangan pasien ke RSUD Banten tersebut langsung ditangani oleh dokter jaga. Selanjutnya pasien diperiksa dan diagnosa terkena penyakit vertiga dan diabetes.

“Kronologis awalnya bahwa keluarga pasien membawa pasien ke RSUD Banten sekitar jam 9 pagi, dan langsung dibawa ke IGD.  Dokter jaga langsung menangani pasien yaitu pemeriksaan fisik dan menjelaskan kondisi pasien bahwa pasien kena vertigo dan diabetes,” ujar Susi Badrayanti, Plt Direktur RSUD Banten. Rabu (3/1/2018)

Adapun beredarnya kabar pasien Aning ditanya perawat menggunakan kartu BPJS atau pembayaran non BPJS, dibenarkan oleh pihak rumah sakit. Karena pertanyaan tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan sudah menjadi Standard Operating Procedures (SOP) dari rumah sakit.

“Untuk pertanyaan apakah pasien memakai bpjs atau tidak? memang itu SOP dari Rumah Sakit untuk menanyakan pasien menggunakan bpjs atau sktm, tetapi pasien tetap ditangani karna proses administrasi tetap harus berjalan, dan tidak ada maksud untuk membeda-bedakan,” jawabnya

Selanjutnya, Susi Badrayanti mengatakan, jumlah kamar rawat inap di RSUD Banten berjumlah 20 kamar. Pada tanggal 31 Desember 2017, saat pasien Aning dibawa ke rumah sakit, kondisi kamar dalam keadaan penuh. Dan pasien diharuskan menunggu di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD)

“Dokter menjelaskan ke keluarga korban jika memang perlu dirawat inap maka pasien harus menunggu di IGD karna ruangan rawat inap penyakit dalam sedang full,” jelasnya

“Pada saat dokter menulis resep, keluarga korban langsung menginginkan pindah rumah sakit ke RS DKT (Detasemen Kesehatan Tentara) dan langsung keluar meninggalkan RSUD Banten,” ucapnya.