Beranda Peristiwa Kabupaten Lebak Stok Darah di PMI Lebak Mengalami Kekosongan

Stok Darah di PMI Lebak Mengalami Kekosongan

430
BAGIKAN
Stok Darah di PMI Lebak Mengalami Kekosongan

LEBAK, Pelitabanten.com – Stok darah pada Unit Transfusi Darah- Palang Merah Indonesia (UTD-PMI) Kabupaten Lebak, Banten, sejak beberapa hari terakhir ini mengalami kekosongan akibat tidak adanya pendonor suka rela.”

Kami merasa kewalahan melayani permintaan darah pasien RSUD Adjidarmo yang cenderung meningkat,” kata Ketua Pelaksana Harian UTD-PMI Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, dr Firman Rahmatullah di Lebak, Rabu (29/11/2017)

Selama ini, permintaan darah cenderung meningkat hingga 80 sampai 100 pasien per hari,sedangkan persedian darah dari pendonor tidak ada,terlebih beberapa hari terakhir curah hujan meningkat.

Biasanya, petugas UTD-PMI Rangkasbitung mendatangi para pendonor di sejumlah gereja di wilayah Tangerang.

Namun, curah hujan tinggi sehingga tidak ada pendonor.

Untuk melayani permintaan darah,pihaknya menyarankan pasien keluarga mengambil darah di PMI Serang maupun DKI Jakarta.

Apabila, keluarga pasien enggan menembus darah ke luar daerah maka disarankan untuk pendonor pengganti dari keluarga pasien.

Saat ini, stok darah yang kosong yakni jenis darah A,B, dan AB.

Untuk mengatasi krisis darah itu, pihaknya meminta keluarga pasien yang membutuhkan darah untuk mencari pendonor pengganti.

“Darah pendonor pengganti itu nantinya untuk keperluan keluarga yang dirawat di rumah sakit,” katanya.

Ia juga mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan darah pihaknya mencari pendonor suka rela dan bekerja sama dengan perusahaan, tempat ibadah, dan sekolah di wilayah Tangerang.

Akan tetapi, lanjut dia, hingga saat ini pendonor suka rela itu tidak ada sehingga stok darah mengalami kekosongan.

“Kami bisa mengatasi kekosongan darah itu satu-satunya dengan cara pendonor pengganti dari keluarga pasien,” katanya

Ia juga mengatakan, pasokan darah dari pendonor hanya bisa bertahan lima hari sampai satu minggu karena permintaan cenderung meningkat dibanding darah yang diperoleh dari suka rela itu.

“Saya berharap masyarakat dan instansi pemerintah mau menjadi pendonor suka rela untuk memenuhi kebutuhan darah,” ujarnya.

Sejumlah keluarga pasien mengantre untuk menjadi pendonor darah di UTD-PMI Rangkasbitung setelah stok darah mengalami kekosongan.

“Kami rela menjadi pendonor pengganti orangtua karena stok darah golongan A tidak ada,” kata Soleh (25) warga Rangkasbitung.Budi Suyanto

BAGIKAN