Beranda Budaya Adat Sunatan Massal, Puncak Kemeriahan Seren Taun Kaolotan Cibadak

Sunatan Massal, Puncak Kemeriahan Seren Taun Kaolotan Cibadak

734
Sunatan Massal, Puncak Kemeriahan Seren Taun Kaolotan Cibadak
Arak-arakan sunatan massal jadi puncak perayaan Seren Taun Kaolotan Cibadak, Warungbanten, Cibeber, Lebak-Banten

LEBAK, Pelitabanten.com – Upacara adat Seren Taun Kaolotan Cibadak di desa Warungbanten, kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak Banten yang berlangsung selama lima hari berturut-turut sejak Minggu hingga Kamis (24-28/9/2017) telah selesai dilaksanakan. Sunatan massal yang menjadi puncak dari rangkaian prosesi Seren Taun dipusatkan di lahan seluas kurang lebih 100 meter persegi di tengah-tengah padatnya pemukiman warga kampung Cibadak yang biasa disebut alun-alun.

Diawali dengan Seserahan Ka Kolot, meminta restu kepada para sesepuh adat kemudian Seren Taun dilanjutkan dengan prosesi Rosul Seren Taun,yakni ritual mengirim doa memohon keselamatan lalu Ngarempug, permufakatan membincang bagaimana adat tetap dilestarikan.

Sehari sebelumnya, Rabu (27/9/2017) digelar beragam acara sejak pagi hingga dini hari (28/9/2017). Mulai pukul 5 sehabis sholat warga berkumpul di tengah alun-alun tepatnya di bawah Babai, sebuah  simbol adat terbuat rangkaian daun janur kuning yang digantung dengan beragam makanan dan uang kertas sebagai hiasan.

Pagi itu, setelah suara tembakan bedil locok dilepaskan menimbulkan suara gelegar berkali-kali di tengah kerumunan warga, belasan ibu-ibu memegang alu (tongkat penumbuk padi) memukul lesung secara beraturan sehingga mengeluarkan irama perkusi bernada diatonik. Sementara asap beraroma kayu cendana mulai mengepul mengiringi ritmik suara lesung bertalu-talu.

Baca juga :  Manfaatkan Tanah Pekarangan, TP PKK Desa Warungbanten Gunakan Pupuk Alami

Upacara adat dimulai dengan prosesi Ngangkat, mengambil padi lalu memasukkannya ke dalam lesung dan ditumbuk. Sepanjang prosesi tersebut seorang olot atau sesepuh adat berkeliling menyelipkan setangkai padi kering di sanggul ibu-ibu yang memukul lesung, sementara para penabuh angklung buhun dan dogdog lojor mengikuti di belakangnya perlahan mengelilingi lesung. Perosesi tersebut berlangsung lebih satu jam. Sampai sekiranya padi di dalam lesung selesai ditumbuk yang nantinya akan dimasak menjadi nasi kuning untuk dibawa pada saat Laran/ Helaran Gede (pawai akbar).

Beberapa saat kemudian, sebanyak 26 anak yang akan disunat/ khitan berkumpul dengan digendong orangtua masing-masing di depan rumah seorang ibu tua yang melakukan ritual Ngageuseur, menggosokkan gigi anak-anak satu persatu secara bergantian.

Setelah semuanya selesai dilakukan ritual Ngageuseur anak-anak dan para orangtua berkumpul kembali di bawah Babai untuk bersiap-siap menjalani proses Laran Ka Cai yang dipimpin oleh sesepuh adat menuju air pancuran di pinggir kali, tempat yang sebelumnya telah ditetapkan. Di pancuran air, kemaluan anak-anak dibersihkan.

Prosesi ini telah berlangsung selama ratusan tahun di Kaolotan Adat Cibadak, seperti dijelaskan oleh Juru Basa (bicara) Kaolotan, Wikanta, “Huntu selam ka batu, awak selam ka cai, sirit selam ka peso,maksudnya gigi selamat oleh batu badan selamat oleh air kemaluan selamat oleh pisau,ungkapnya menjelaskan.

Baca juga :  Lokakarya Refleksi Tiga Tahun Implementasi UU Desa, Jaro Ruhandi Berbagi Pengalaman Memimpin Desa Adat

Setelah anak-anak selesai dibersihkan, kemudian disiapkan untuk prosesi Laran Gede. Setelah dilakukan prosesi Baksa, sebuah ritual yang dilakukan oleh para sesepuh dengan mengeluarkan alat-alat yang dipakai sehari-hari semacam hihid (kipas terbuat dari bambu), centong, (alat menuangkan nasi), ada juga yang membawa golok, keris dan sebagainya. Semua alat yang dikeluarkan merupakan berusia alat-alat tua atau pusaka.

Dalam ritual Baksa, para sesepuh dengan alat di tangan melakukan semacam gerakan secara bersamaan seperti gerakan anak-anak bermain Engkle dengan diiringi suara tetabuhan musik pencak silat.

Sementara para pengantin sunat telah selesai didandani dan dinaikkan ke atas tandu yang dibentuk menyerupai berbagai kendaraan mini seperti mobil, rumah, motor roda tiga, helikopter, tank militer dan sebagainya. Para orangtua memikul anak-anak lalu membawanya ke alun-alun berkumpul di bawah Babai untuk bersiap-siap melaksanakan Laran Gede atau pawai akbar.

Arak-arakan pun dimulai, diawali oleh kelompok barisan Berok, diikuti dengan sekelompok orang yang saling menyabet tangan dan tubuh, kemudian Rengkong, Kendang dan Goong, Angklung Buhun, Pasukan Bedil, Barisan Kaolotan Cibadak, 26 Pengantin Sunat yang diarak diatas kendaraan miniatur, Drum Band,Marawis, Pramuka dan Tanjidor.  

Kemeriahan berlangsung sepanjang siang hingga malam diisi dengan berbagai hiburan bertempat di beberapa sudut desa ; dangdut, jaipong, tanjidor dan wayang golek semalam suntuk.

Baca juga :  Pemetaan Partisipatif Jadi Rujukan Pembangunan Desa Warungbanten