Beranda Travel Sejarah Situs Batu Tumpeng di Hutan Adat Kasepuhan Adat Cibadak Dijaga Secara Turun...

Situs Batu Tumpeng di Hutan Adat Kasepuhan Adat Cibadak Dijaga Secara Turun Temurun

412
Situs Batu Tumpeng di Hutan Adat Kasepuhan Adat Cibadak Dijaga Secara Turun Temurun
Jaro Ruhandi, berkaos putih bersama Wisnu Wirandi berpose di Situs Batu Tumpeng, Minggu (24/9/2017)

LEBAK, Pelitabanten.com – Keindahan alam desa dan sumber daya yang dimilikinya menjadi potensi yang harus dirawat dan dimanfaatkan oleh masyarakatnya secara bersama-sama sebagai anugrah alam bagi manusia.

Kampung Cibadak Desa Warungbanten, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak-Banten sebuah wilayah pedesaan di bagian Banten Selatan yang memiliki keindahan alam serta masyarakatnya masih berpegang teguh pada budaya dan ajaran para kasepuhan.

Disana juga terdapat kawasan Hutan Adat seluas lebih kurang delapan hektare, bernama Dungus (Hutan Adat) Ki Bujangga yang dijaga secara turun temurun oleh Lembaga Adat Kaolotan Cibadak. Dan yang paling penting di area tersebut terdapat situs Batu Tumpeng atau Batu Nyungcung.

“Dungus Ki Bujangga atau hutan aday yang di dalamnya terdapat Situs Batu Nyungcung ini adalah titipan yang dijaga secara turun temurun, karena itu akan kami jaga sebagai sumber mata air untuk kehidupan warga, tidak boleh dirusak,” ujar Ruhandi, Kepala Desa Warungbanten, Minggu (24/9/2017).

Situs Batu Tumpeng atau Batu Nyuncung berbentuk piramida di tengahnya serta terdapat dinding-dinding batu yang mengelilingi area situs ini. Lokasinya berada di samping area pesawahan masyarakat dikelilingi aliran sungai kecil sebagai hulu sungai hulucai yang menjadi sumber air masyarakat dan mengalir ke rumah-rumah warga.

“Situs ini biasa digunakan sebagai tempat ziarah masyarakat Adat Kasepuhan Cibadak,” ujarnya.

Situs Batu Tumpeng/ Nyungcung merupakan salah satu situs batu tua peninggalan zaman megalitikum yang keberadaannya belum tercatat di Data Pokok Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak. Namun keberadaan situs ini diperkirakan sudah ada ratusan tahun silam.

“Harapan masyarakat, situs ini dapat di masukan ke dalam data pokok kebudayaan di dinas terkait,” pungkasnya.