Beranda Budaya Melalui Deklarasi Pancacita, Seniman Banten Minta Gubernur Segera Terbitkan Perda Kebudayaan

Melalui Deklarasi Pancacita, Seniman Banten Minta Gubernur Segera Terbitkan Perda Kebudayaan

190
BAGIKAN
Melalui Deklarasi Pancacita, Seniman Banten Minta Gubernur Segera Terbitkan Perda Kebudayaan
Anto Baret, Presiden Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Indonesia bernyanyi di hadapan seniman Banten pada acara Jaseba, Minggu (6/8/2017)

SERANG, Pelitabanten.com – Sebagai sebuah provinsi yang berumur hampir 17 tahun, pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Banten dinilai oleh kalangan seniman masih jauh tertinggal. Indikator sederhananya adalah Provinsi Banten hingga saat ini belum memiliki Peraturan Daerah tentang kebudayaan, Taman Budaya,  atau ruang-ruang ekspresi berkesenian yang representatif seperti Gedung Kesenian, atau Galeri Seni Rupa. Kemudian, dari segi kebijakan, pemerintah juga dianggap kurang peduli terhadap kesenian, baik itu yang tradisional maupun kontemporer, misalnya saja dari aspek bantuan dana bagi sanggar/ komunitas untuk mengikuti lomba atau event mewakili Provinsi Banten. Persoalan-persoalan tersebut terungkap dalam Dialog Seniman Banten pada acara Jambore Seniman Banten (Jaseba) yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Banten (DKB) di Pantai Kelapa Gading Cinangka Kabupaten Serang, Sabtu dan Minggu, (5-6/8/2017).

Sejalan dengan hal itu, Chavchay Syaifullah, Ketua Umum Dewan Kesenian Banten, mengungkapkan ada beberapa persoalan yang mendesak dalam hal pengembangan kesenian dan kebudayaan di Banten yang perlu diselesaikan dengan spirit kebersamaan, mulai dari infrastruktur yang terkait dengan ketersediaan ruang dan fasilitas kebudayaan, hingga suprastruktur kebudayaan yang berkenaan dengan identitas dan visi kebudayaan Banten. Maka diperlukan sinerji  dalam membangun kebudayaan yang berkelanjutan serta interaksi yang sehat dan saling mendukung satu sama lain.

Jaseba merupakan program yang sengaja dirancang dan diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Banten dalam rangka membangun spirit kebersamaan, mempererat silaturahim, berbagi pendapat dan pengalaman di kalangan pegiat seni budaya Banten. Kegiatan ini diikuti oleh 213 peserta yang mewakili 75 sanggar/komunitas/lembaga dari 8 kabupaten dan kota di Provinsi Banten.  Kegiatan Jaseba terdiri dari Kemah Budaya, Dialog Seniman Banten, Deklarasi Seniman Banten, Parade Melukis Bersama yang diikuti oleh 25 orang pelukis, Atraksi Kesenian dan Panggung Bebas yang diisi oleh penampilan tari dari sanggar Harum Sari, sanggar Putra Panglipur, pementasan musik oleh Devta & Friends, Tongkat Kayu, dan bend reggae asal Rangkasbitung Lobaloby Dread, monolog oleh Dede A. Majid, serta pembacaan puisi oleh D.C. Aryadi. Dalam acara tersebut hadir pula Anto Baret, Presiden Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) yang ikut menyanyikan 3 lagu.

Dalam Jambore Seniman Banten yang pertama kalinya diselenggarakan ini, para peserta berhasil menyusun naskah Deklarasi Pancacita Seniman Banten yang berisi:

  1. Menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Kebudayaan Daerah sebagai payung hukum penerapan strategi pengelolaan seni budaya di Provinsi Banten;
  2. Mengubah nama dan fungsi area eks Pendopo Gubernur Banten menjadi Taman Budaya Banten (TBB) sebagai sentra pengelolaan seni budaya di Provinsi Banten;
  3. Membangun Gedung Kesenian Banten (GKB) yang mencakup galeri seni rupa, auditorium seni pertunjukan, ruang workshop, serta sarana dan prasarana lainnya;
  4. Mendirikan Akademi Komunitas Kesenian Banten (AKKB) sebagai langkah awal menuju pendirian Institut Kesenian Banten (IKB);
  5. Menggerakkan perusahaan-perusahaan di Banten untuk merealisasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) guna pengelolaan seni budaya di Provinsi Banten.

Naskah Deklarasi Pancacita Seniman Banten ini rencananya akan diserahkan langsung kepada Wahidin Halim selaku Gubernur Banten pada saat membuka acara Jambore Seniman Banten. Namun, gubernur berhalangan hadir, hingga akhirnya naskah deklarasi diserahkan kepada Drs. Ujang Rafiudin, M.Si., Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten yang mewakili Gubernur Banten untuk membuka acara Jaseba.

“Wahidin dan Andika masih kurang peduli terhadap nasib kesenian dan kebudayaan di Banten. Lebih menyedihkan lagi, mereka enggan berdialog dengan seniman dan budayawan. Buktinya Wahidin tidak mau datang di acara pembukaan Jaseba dan Andika tidak mau datang di acara penutupan Jaseba. Padahal perwakilan sanggar, komunitas, dan lembaga dari seluruh kabupaten/ kota se-Banten sudah menunggu. Gubernur dan wakil gubernur harus mendengar aspirasi seniman dan budayawan Banten. Itu kunci kalau Banten mau maju secara kebudayaan, harus saling peduli dan mau bekerjasama,” jelas Chavchay.

“Saya berharap sepenuh hati agar gubernur dan wakil gubernur mulai mau melangkah bersama dengan seniman dan budayawan Banten,” pungkas Chavchay. []