Beranda Pendidikan Ace Hasan Sadzily: Pelihara Nilai-Nilai Kebangsaan Melalui Literasi

Ace Hasan Sadzily: Pelihara Nilai-Nilai Kebangsaan Melalui Literasi

120
BAGIKAN
Ace Hasan Sadzily: Pelihara Nilai-Nilai Kebangsaan Melalui Literasi
Dr. TB. H. Ace Hasan Sadzily, M.Si menyampaikan kuliah umum bertema “Islam dan Politik Kebangsaan” di Balai Ilmu Pengetahuan Rafe'i Ali Institute, Minggu (18/6/2017)

PANDEGLANG, Pelitabanten.com – Rangkaian kegiatan Munggahan Kampung Literasi bertajuk “Ramadhan Bulan Iqra dan Qalam” yang dilaksanakan Rafe’i Ali Institute (RAI) sejak 31 Mei ditutup oleh kuliah umum bertema “Islam dan Politik Kebangsaan” yang dibawakan oleh Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Dapil 1 Banten, Dr. TB. H. Ace Hasan Sadzily, M.Si yang juga merupakan agenda Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaaan.

Dalam paparannya, Wasekjen DPP Partai Golkar ini menyampaikan bahwa konsensus kebangsaan Indonesia sudah final. Empat konsensus kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI merupakan hasil renungan dan buah toleransi para Pendiri Bangsa. Negara-negara lain sangat menginginkan di negara mereka ada hal seperti yang dimiliki bangsa Indonesia ini.

Dr. TB. H. Ace Hasan Sadzily, M.Si menyampaikan kuliah umum bertema “Islam dan Politik Kebangsaan” di Balai Ilmu Pengetahuan Rafe’i Ali Institute, Minggu (18/6/2017)

“Empat konsensus kebangsaan ini harus kita syukuri sebagai nikmat dari Allah untuk bangsa Indonesia. Kita tidak boleh kalah dalam merawat warisan para pendiri bangsa ini dari sekelompok orang yang ingin memaksakan kehendaknya sendiri.” Tutur dosen Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang Banten ini di hadapan dua ratusan peserta yang memenuhi Balai Ilmu Pengetahuan Rafe’i Ali Institute, Kampung Jaha Masjid Desa Sukamaju Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang-Banten, Minggu (18/6/2017).

Baca juga :  Sinar Mas Land Hadirkan Southgate, Apartemen Mewah Berkonsep Lingkungan Terintegrasi dengan AEON Mall di Jakarta Selatan

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan bahwa dalam Islam sendiri tak ada perintah yang secara gamblang mengharuskan mendirikan negara Islam atau khilafah. Sayangnya saat ini, menurut penelitian yang dirilis Saiful Mujani Research Center (SMRC), masih ada sekitar 11,5 % rakyat Indonesia yang mendukung keberadaan Ormas yang selama ini kerap mengampanyekan pendirian khilafah dan mengganti empat konsensus kebangsaan yang dimiliki Indonesia.

“Banten dan Jawa Barat merupakan daerah yang tingkat dukungan terhadap Ormas Anti-Pancasilanya paling tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia yaitu sebesar 20,1%,” imbuh Ketua Dewan Kebijakan Rafe’i Ali Institute ini.

Dalam durasi dan tempat yang sama, Ketua Dewan Pengarah Rafe’i Ali Institute, Dr.Neng Dara Affiah, M.Si, menyampaikan bahwa RAI telah berkomitmen untuk menjaga warisan para pendiri bangsa melalui kegiatan-kegiatan pendidikan publik dan kebudayaan.  Kegiatan yang diselenggarakan RAI pada bulan ramadhan ini, tambah Dewan Pengarah World Culture Forum UNESCO-Kemendikbud RI ini, yang mencakup kesejarahan, politik, literasi, teater, jurnalistik sampai kewirausahaan adalah upaya menyusun batu bata penguat kebangsaan.

Baca juga :  Rafe’i Ali Institute Selenggarakan Diskusi Literasi Fotografi
Ketua Dewan Pengarah Rafe’i Ali Institute, Dr.Neng Dara Affiah, M.Si, “RAI berkomitmen menjaga warisan para pendiri bangsa.”

“RAI memiliki tujuan mencerdaskan dan membebaskan masyarakat dari gelapnya ketidaktahuan lewat tradisi literasi,” pungkas perempuan yang akrab disapa Teh Neng ini.

loading...