Beranda Sastra Bingkai Kata KATAK TULI (Bagian 2/3)

KATAK TULI (Bagian 2/3)

570
BAGIKAN
Abdul Latif S Mulyadi
Foto: Abdul Latif S Mulyadi

Pelitabanten.com – “alhamdulillah saya bisa datang…. ke nikahan kamu. saya tunggu wisuda doktornya ya..!!

 “Insya Allah Prof, ngumpulin modal dulu..”.

 “Lalu, ini neno? Eh maaf Neo ya.. lalu yang ini? ”

 “Saya Fajar Prof, saya masih yunior saat abang-abang ini bikin onar di kampus prof.. “

 “ya… ya… saya pernah beberapa kali berjumpa…”.

 Di tengah sakitnya, Prof sanggup mengingat kami satu persatu, mengenang setiap saat kebersamaan kami dengannya. Dengan suara parau dan perlahan, beliau seakan ingin banyak berbicara namun dengan kanker paru yang tengah di deritanya mengharuskan beliau batuk beberapa kali dan harus kembali menempelkan selang udara ke hidungnya.

 “Prof, masih ingat saat kita semua bertualang di Pulau Panjang? Ternyata prof jago berenang, kita yang gak bisa berenang Cuma bisa melihat prof asyik berenang sambil membayangkan, andaikan kita bisa jago berenang…” ujarku mengenang kebersamaan dengan seorang profesor yang senang bertualang.

Baca juga :  Tradisi Kawalu Tiba, Para Pelancong Dilarang Masuk Baduy

 “Iya, tapi kalian curang… orang tua kayak saya harus berebut makanan melawan kalian yang masih muda dan rakus… ha.. ha… untung saya masih kebagian ikan… walaupun tinggal tulangnya aja… ha.. ha..” kini terlihat rona bahagia dan semangat menggebu yang dulu pernah kami lihat dari beliau.

 “Prof, ingat waktu ke Suku Baduy? Prof Kuat banget, usia 60 tahun lebih, prof masih jalan naik turun bukit selama 5 jam tetap tidak terlihat capek,  padahal kami yang masih muda sudah sangat lelah, hebat banget prof…” ujar Eko menimpali.

 “Ya.. ya.. saya ingat itu, karena saya dulu selalu rajin olahraga…” kini mata prof menerawang dan menebar senyum seraya mengingat kebersamaan kami.

 Obrolan kami terus berlanjut, bernostalgia tentang banyak kenangan indah yang selama ini tertebar antara kami para mahasiswa dengan rektor yang bak ayah kami.

Baca juga :  HATI BERLIAN

 Prof Yoyo lah yang hampir setiap kali akan pulang dari kampus menyempatkan mampir ke kantor PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) tempat kami para aktivis BEM dan Himpunan berkegiatan, tak jarang beliau ikut bermain pingpong bersama kami. “Ping pong memang Hobi Prof…” ujar istrinya tersenyum.

 Beberapa kali Prof Yoyo menyambangi PKM di pagi hari sekedar untuk membangunkan para aktivis yang tidur di kantor BEM. Beliau juga peka terhadap kebersihan PKM, termasuk melongok Toilet PKM, bahkan beberapa kali menegur mahasiswa dan bagian kebersihan kampus yang tidak ikut menjaga ketertiban dan kerapihan PKM.

 Beliau tak pernah menghindar untuk ditemui para mahasiswanya, siap berdiskusi dengan para mahasiswa kapanpun dan dimanapun. Tak jarang beliau menerima  kami di rumahnya, berbincang di bawah pohon rindang depan kampus, di mesjid kampus, bahkan ngopi bareng dan berpetualang bersama menjadi kenangan tersendiri bersamanya.

Baca juga :  Sanggar Lebak Membara: Merawat Tradisi – Meruwat Generasi

 “Itu karena saya sayang sama kalian..” Ujar prof semakin tersenyum cerah.

 Perdebatan dan orasi kami di tengah pergumulan tuntutan mahasiswa selalu dapat dipatahkan oleh tuturan lembut namun tegas dan menikam argumentasi. Ada pesona magis yang menghipnotis kami tatkala beliau tengah berbicara di hadapan para mahasiswa. Beliaulah bapak mahasiswa, lebih dari sekedar rektor, lebih dari sekedar dosen. Bersambung..

Oleh: Abdul Latief, WTS

WTS: Writer Trainer Speaker. Penulis telah menerbitkan beberapa buku dan aktif di pengembangan sumber daya manusia, training public speaking, leadership, managemen, motivasi, dan beragam program lainnya bagi termasuk menyemai pengembangan para pelajar dan mahasiswa di Banten dengan program Early Leadership dan Early Motivaton.

follow twitter: @pondok_harmoni

Instragram : @abdullatiefku & @harmonydailyquotes