Beranda Budaya Panggung Persaudaraan Penyair Banten-Lampung Berlanjut 2018 di Banten

Panggung Persaudaraan Penyair Banten-Lampung Berlanjut 2018 di Banten

232
BAGIKAN
Panggung Persaudaraan Penyair Banten-Lampung Berlanjut 2018 di Banten
Ketua Dewan Kesenian Banten, Chavchay Syaifullah

SERANG, Pelitabanten.com – Panggung Persaudaraan Penyair Banten-Lampung telah berlangsung di Lamban Sastra Isbedi Stiawan ZS, Lampung,  pada 28 April 2017 lalu. Malam itu tiga penyair dari Banten, Chavchay Syaifullah, Firman Venayaksa, dan Toto ST Radik membacakan puisi-puisinya secara bergantian bersama dengan para penyair dari Lampung, yakni Isbedy Stiawan ZS, Syaiful Irba Tanpaka, Heru Antoni, dan Robi Akbar. Suasana persaudaraan mengalir secara hangat di atas panggung.

“Panggung yang istimewa ini mari kita jadikan panggung persaudaraan penyair Banten-Lampung yang diselenggarakan setiap tahun secara bergiliran. Banten dan Lampung punya ikatan persaudaraan yang panjang dan mendalam. Persaudaraan di ajang sastra kelak akan mendorong hubungan-hubungan sosial dan ekonomi yang lebih baik. Kita mulai dari gerakan masyarakat, kalau gerakan ini berhasil pemerintah pun kelak akan ikut dengan sendirinya,” ujar Ketua Dewan Kesenian Banten, Chavchay Syaifullah. Jumat ( 12/5/2017)

Chavchay menjelaskan bahwa di masa kejayaannya, Kesultanan Banten tidak pernah membangun hubungan dominatif terhadap Lampung. Hubungan ekonomi yang saling menguntungkan, terutama di bidang perdagangan lada hitam, tidak membuat Banten terdorong untuk menerapkan kebijakan politik yang dominatif. Aturan-aturan yang dirumuskan Banten di wilayah pesisir Lampung hanya untuk memudahkan perdagangan, sebab Kesultanan Banten saat itu telah menjalankan sistem perdagangan Internasional yang didukung oleh sistem administrasi pelabuhan yang modern.

“Hubungan yang saling menghormati dan menguntungkan ini harus kita terapkan kembali. Kita mulai dari jalur kebudayaan,” ujar Chavchay.

Ketua Lamban Sastra, Syaiful Irba Tanpaka, dalam sambutannya mengatakan bahwa pertemuan yang sangat mengharukan ini bisa memberi inspirasi bagi generasi mendatang.

“Pertemuan hari ini tentu akan menjadi sejarah. Kita akan dorong generasi muda Banten dan Lampung bisa berbuat lebih banyak dan lebih besar untuk membangun persaudaraan Banten dan Lampung secara lebih nyata,” ujar Syaiful.

Dalam kegiatan perdana ini, Lamban Sastra menerbitkan buku kumpulan puisi dari Banten dan Lampung berjudul Mengeja Kitab.

Dalam buku tersebut, Isbedy menuliskan bahwa Lampung dan Banten sudah berabad-abad bersaudara. Semenjak zaman Kesultanan Banten, Lampung dianggap saudara sendiri. Karena itu, ada pameo: jika Lampung perang maka Banten berada di depan. Begitu pun sebaliknya.

“Desa Cikoneng di Banten adalah bukti Lampung menganggap Banten seperti saudara kandung. Ulun Lampung yang berada di Cikoneng setelah berperang melawan Belanda menjadi saksi bagaimana persaudaraan Banten-Lampung terbangun cukup baik. Begitu pun dengan orang-orang Banten yang sudah berabad-abad tinggal di Lampung mereka membangun Lampung seperti halnya mereka membangun rumah sendiri,” ujar Isbedy.

Di akhir acara, dalam dialog antara penyair Banten dan Lampung bersepakat bahwa 2018 nanti Panggung Persaudaraan Penyair Banten-Lampung akan diselenggarakan di Banten.

BAGIKAN