Nanang Amijaya, Pesilat Desa yang Melenggang ke Amsterdam dan Canberra

Nanang Amijaya, Pesilat Desa yang Melenggang ke Amsterdam dan Canberra
Nanang Amijaya bersama keluarga kecil tercinta

LEBAK, Pelitabanten.com – “Hampir rata-rata peguron (perguruan) pencak silat di Lebak masih berpegang teguh pada warisan budaya para leluhur, para guru di peguron pencak silat tradisi melatih murid-muridnya dengan tekun, mengajarkan jurus-jurus secara turun temurun”, kata membuka perbincangan dengan Pelitabanten.com di depan Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak-Banten.

Namun menurutnya itu saja belum cukup, sebab pencak silat di desa masih identik dengan kelompok penghibur pada acara hajatan di kampung-kampung. “Jurus-jurus yang diajarkan hanya itu-itu saja tidak ada perkembangan, stag, tidak ada inovasi, pencak silat masih sebatas mengisi hiburan di acara hajatan (pesta) pernikahan atau khitanan bagi warga desa sekitar”, lanjut Nanang, Jumat (17/3/2017)

Pria 33 tahun ini mengaku telah menekuni olahraga seni beladiri pencak silat sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD, mengikuti jejak almarhum kakeknya di perguruan pencak silat Panglipur. Perjumpaanya dengan bentuk pencak silat prestasi untuk pertama kalinya dialami ketika bergabung di sanggar dan dibina langsung oleh Imas Kania, salah seorang pegiat pencak silat prestasi di Lebak.

Baca Juga:  Dukung Untirta Cetak Dokter Berkualitas, Gubernur Siap Gelontorkan Rp 100 Miliar

Pengalamannya di dunia pencak silat terus meningkat terlebih ketika mondok di Pesantren Fathul Robbani. Disana ia bergabung dengan peguron pencak silat Silambawiqri pimpinan Guru Besar Alm. KH Achmad Fathoni Karim. Seletah lulus ia menjadi pembina pencak silat di almamaternya dengan mengkolaborasikan bentuk-bentuk dan prestasi secara eksperimental. Dan berhasil membawa murid-muridnya meraih prestasi sebagai juara pertama cabang pencak silat mewakili Kab. Lebak di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2012.

Mendapat kesempatan mengikuti Penataran Pelatih dan Wasit tingkat nasional tahun 2008, kiprahnya membawa pergi bertualang ke berbagai ajang kejuaraan di tingkat nasional. Dari pengalamannya tampil di acara-acara pernikahan dan khitanan dari kampung-kampung di pelosok desa Kabupaten Lebak, ikut terbang ke Amsterdam, Belanda setelah satu tahun bergabung dan berlatih di Bale Seni Ciwasiat pimpinan Rohaendi dalam event tahunan Tong Tong Fair 2010.

Baca Juga:  Ketua Panwaslu Kecamatan Tangerang Lantik Petugas Pengawas Pemilu

Sebuah misi kesenian mewakili menampilkan tarian “Padingdangan”, bentuk garapan kolaborasi seni Terbang Gede, Tarian Khas Banten, Rampak Bedug dan Debus. Tidak hanya sampai disitu, dalam misi yang sama, bersama Bale Seni Ciwasiat, ayah dua anak ini juga ikut melenggang ke Canberra, Australia tahun 2014.

Sempat mengajar di SMK Mathla’ul Anwar Rangkasbitung, suami dari Martina Nartilova ini dipercaya oleh pemerintah daerah menjadi staff di Museum Multatuli, di bawah kabid Budaya dan Kebudayaan Kab. Lebak. Terhadap seni budaya khususnya seni beladiri pencak silat, Nanang mengungkapkan pandangan dan harapannya, “Menurut saya pencak silat di Lebak belum berkembang secara maksimal. Jurusnya hanya itu-itu saja tidak berubah, secara hanya mengikuti kasepuhan terdahulu, saya sih pengennya jurus-jurus pencak silat terus digali dan dikembangkan secara inovatif agar tidak terkesan primitif, bahasa sundanya dimamanislah”, katanya.

Baca Juga:  Festival Kampung Pemuda Mandiri

Dari sekian banyak peguron pencak silat yang ada di Kab. Lebak, masih terbilang sedikit jumlahnya yang aktif mengikuti berbagai ajang kejuaraan dan baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Sarjana pendidikan kesehatan jasmani ini pun berharap kepada pemerintah daerah agar dapat memberikan ruang seluas-luasnya bagi pengembangan prestasi para pesilat di Lebak. “ saya selaku pesilat agar pemerintah lebih memperhatikan seni beladiri pencak silat baik yang maupun prestasi, dengan menyelenggarakan pencak silat antar peguron se-Kabupaten Lebak. Karena generasi penerus pencak silat sesungguhnya sangat antusias, tinggal bagaimana pemerintah bersama stakeholder membuka ruang sebesar-besarnya untuk tujuan pelestarian budaya”, pungkasnya.