Permainan Dunia Politik [Cerpen]

Permainan Dunia Politik
ILUSTRASI (Markus Spiske/Pexels)
Hari Jadi Kab Tangerang 2021

Penulis Cerpen: Nur Baeti (Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Angkatan tahun 2021)

Di suatu malam yang gelap dengan kesejukan khas pedesaan yang alami dengan suara jangkrik yang mengiringi, terdapat satu keluarga yang hidup sederhana. Mereka tinggal di rumah yang tidak terlalu besar tetapi nyaman untuk mereka tinggali. Dengan lampu yang sedikit redup sebagai pencahayaan meraka.

“Sudah malam nak, pergi tidur” seorang ibu yang menyuruh anaknya untuk tidur.

“iya bu, ini sebentar lagi” sahutku sambil terus mengerjakan tugas.

“tugasnya ditunda saja Tari, masih bisa dikerjakan besok kan?” Ya dia adalah Tari anak tunggal dari ibu Iis dan bapak Rusdi.

“sudahlah nak, dengarkan apa kata ibumu” ucap bapak sambil membenarkan caping bambu untuk digunakan besok.

“iya pak” aku pun langsung membereskan semua tugas dan langsung menuju ketempat tidur.

Keesokan harinya seperti biasa Tari memulai harinya dengan membantu kedua orang tua untuk beres-beres dan dilanjut kuliah secara daring. Sementara kedua orang tuanya harus bekerja di sawah. Mereka memang keluarga yang bisa dibilang keluarga tidak mampu, tetapi dalam urusan Pendidikan kedua orang tua Tari sangat mendukung agar Tari bisa menempuh Pendidikan setinggi mungkin. Sekarang ini Tari sedang menempu Pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Negri ternama yang ada di Provinsi Banten.

“Tari, nanti setelah selesai kuliah anterin makanan ke sawah ya nak” teriak ibu di dapur.

“iya bu, nanti Tari antarkan ke sana” Sahutku dari kamar dengan suara yang sedikit meninggi.

Siang harinya setelah beres perkuliahan dan setelah melaksanakan sholat dzuhur Tari pun bergegas untuk mengantarkan makanan ke sawah sesuai dengan perintah ibu. Sesampainya di sana Tari langsung memberikan makanan itu ke ibunya. Saat hendak pulang tiba-tiba saja datang hujan, kedua orang tua Tari pun menyuruh untuk meneduh di gubuk yang ada di antara sawah dan jalan pedesaan. Bukan hanya Tari dan kedua orang tuanya, para petani yang sedang bekerja pun ikut berteduh dan menunda pekerjaannya. Tidak lama hujan pun reda para petani dan kedua orang tua Tari pun makan Bersama di tepi sawah, sementara Tari dia masih duduk di gubuk tersebut.

Baca Juga:  Jakarta Ku Kan Kembali [Cerpen]

Rintik hujan tadi yang jatuh ke tanah menyisakan aroma petrikor yang menenangkan. Matahari yang tertutup awan putih seakan malu untuk menampakan diri di siang ini, tetapi tidak melemahkan sinarnya untuk menerangi bumi. Aku yang sedang menikmati kebahagian para petani yang sedang tertawa sambil memanen padinya. Terlihat dari raut muka petani yang seakan tidak ada masalah dalam dunianya, bergurau sambil melempar senyuman sesama petani. Makan bersama dengan hanya beralaskan terpal yang disimpan di atas tumpukan Jerami dengan daun kelapa yang menjadi peneduh. Tak lama kemudian seseorang menghampirinya.

“Tar, lagi ngapain?” ucap seseorang yang datang dari arah samping dan langsung duduk.

“ini tadi disuruh nganterin makanan terus keenakan deh di sini. hehe” jawabku sambil cengengesan.

“cape ya ternyata jadi mahasiswa. Banyak tugas” curhatku kepadanya.

“ngerjainnya sambil dinikmati aja nanti juga selesai. dulu kita memohon untuk bisa jadi mahasiswa, sekarang udah jadi mahasiswa ya laksanain tugasnya jangan ngeluh terus” ucapnya dengan bijak dengan pandangan lurus kedepan menikmati indahnya alam ciptaan-Nya.

“kamu sendiri mau ngapain Mel?” ya, dia adalah Imel, teman seperjuangan Tari yang mempunyai tujuan yang sama dalam mengubah nasibnya.

“tadinya cuma mau keluar, bosen di rumah terus. Eh terus liat kamu, kesini deh jadinya” jawab Imel.

“tadi sebelum ke sini aku sempat melihat berita ditv” lanjut imel.

Baca Juga:  Budaya Gotong Royong Jadi Kewajiban, Masyarakat Baduy Tak Perlu Membayar Pemborong

“berita apa?” tari langsung menoleh kearah imel.

“itu wakil ketua DPR yang korupsi” jelas Imel dengan nada kesal.

“hadeuh.. emang ga bakal jauh-jauh sih antara politisi sama korupsi” ujarku dengan masabodo.

“kadang tuh heran sama mereka, udah kerja diruangan ber ac, gaji gede masih aja korupsi. Wakil ketua lagi” ucap Imel yang makin kesal.

“pas menyalonkan diri aja janji-janji yang keluar manis banget. Ujung-unjungnya apa?” Imel memang seperti itu, jika membicarakan tentang politik antusias banget.

“liat mereka, pakaian kucel, tenaga terkuras, tapi malah memberikan banyak manfaat bagi kita” lanjut Imel sambil menunjuk para petani.

Memang jika Melihat mereka yang berpakaian penuh dengan debu, terpapar langsung oleh cahaya matahari, sampai keringat yang menetes didada tetapi membawa kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar. Lantas, bagaimana dengan mereka yang bekerja menggunakan pakaian rapih, tanpa kotor sedikit pun, duduk di kursi yang megah dengan penyejuk ruangan yang tidak ada hentinya dan dijamin kehidupannya oleh negara, tetapi malah membawa kesengsaraan bagi masyarakat. Siapakah dia?.

“yang korupsi mah tak pandang bulu mel, apalagi yang ingkar janji” ucapku yang mulai tertarik dengan pembicaraan.

“sampe ke orang paling tinggi jabatannya di negeri ini ingkar janji hahah” ucap Imel dengan seenaknya.

“tenang. kita sudah menjadi mahasiswa jadi bebas berpendapat hehe” lanjutnya saat melihat raut mukaku yang datar.

Ya, aku tahu seorang mahasiswa memang mendapatkan hak kebebasan untuk berpendapat tentang apapun yang menyangkut bumi pertiwi. Terutama dalam membela rakyat kecil yang selalu ditindas oleh mereka para politisi yang mempunyai kedudukan tinggi. Melihat kenyataan dari janji janji yang sudah dilontarkan yang begitu bertolak belakang. Negeri yang penuh dengan permasalahan terutama yang timbul dari oknum para politisi yang tidak bertanggung jawab. Janji janji yang diberikan hanya berlaku saat pemilihan bahkan ada yang sampai tidak terlaksanakan.

Baca Juga:  Denting di Ujung Genting [Puisi]

“yang tuan berdasi minta dikritik juga kan Mel?” pancing ku pada Imel.

“nah iya itu, mintanya sih dikritik tapi saat dikritik malah gitu” jawab Imel dengan nada ketus

Masih ingat dengan pidato tuan berdasi dilaporan tahunan ombudsman 2020? Katanya sih merindukan kritikan dari para pemuda negeri, tapi saat sejumlah mahasiswa turun ke jalan untuk melaksanakan aksi demonstrasi malah dikerasi. Lantas, apa yang terjadi? Mereka tidak didengar tapi dibungkam. Bahkan ada sejumlah masyarakat yang mengkritik malah terjerat hukum dengan alasan pencemaran nama baik, jelas ini sangat bertolak belakang.

“sebenarnya tujuan utama mereka apa sih? Mau memajukan negeri atau memang sekedar bisnis melalui politisi dan akhirnya ingkar janji dan korupsi?” ucap imel dengan raut muka seakan berfikir.

“tanpa kita sadari obrolan kita tuh merujuk ke pendekatan behavioralisme tau” jelasku memberi tahu Imel.

“eh iya ya? Pendekatan perilaku itu kan ya?” tanya Imel dengan kebingungan tapi dengan senyuman.

“betul banget sih…” jawabku sambil kegirangan.

“eh udah dulu ya, takut dicariin, soalnya tadi ga bilang mau kesini” ujar Imel sambil melenggang pergi.

“iya, udah sana” candaku seakan mengusir Imel.

“Tari angkat jemuran di rumah, sudah sore” teriak ibu menyuruh Tari.

“iya bu, ini Tari mau pulang” jawab Tari sambil jalan menuju rumah.

Obrolan merekapun terhenti karena matahari yang mulai pergi dan waktu menunjukan pukul tiga sore hari. Meski beberapa politisi ingkar janji tapi tidak sedikit juga yang masih mempunyai hati Nurani. Dengan pekerjaan yang begitu berat karena harus menjaga kepercayaan dari rakyat sudah menjadi tanggungan bagi mereka yang terjun ke dunia politik.